Tiga Rampok Di Bekuk Saat Beraksi Di Desa Puyung


Lombok Tengah - Kerjasama yang di bangun aparat kepolisian yang bermitra dengan masyarakat ternyata semakin membuahkan hasil yang maksimal. Berkat informasi yang di terima kepolisian dari masyarakat, tim Buru Sergap (Buser) Polres Loteng berhasil membekuk tiga pemuda saat beraksi membobol rumah warga, Senin (12/03/2012).

Kasat Reskrim Polres Loteng, IPtu Yeremias Tony membenarkan tim Buser berhasil membekuk tiga perampok saat beraksi di rumah SR warga dusun Otak Desa desa Puyung kecamatan Jonggat berdasarkan informasi dari masyarakat. Ketiga pelaku saat gerebek langsung diamankan petugas tanpa perlawanan. ‘’Informasi masyarakat langsung kita sikapi dan akhirnya membuahkan hasil yang maksimal,’’ katanya.
          
Krnologis kejadiannya bermula pada Sabtu (10/3) sekitar jam 21.00 malam kemarin ke tiga pelaku masing-masing AN (20) warga dusun Embung Kateng, FT (22) dan TB (21) keduanya warga dusun Mertak kecamatan Jonggat yang di lengkapi cadar dan senjata tajam berbagai jenis berhasil memasuki rumah korban melalui jendela belakang rumah. Ketiga pelaku memasuki rumah pelaku dengan cara mencongkel paksa jendela yang berada di belakang rumah pelaku. ‘’Ketiga pelaku berhasil berhasil membobol rumah pelaku dengan mencongkel jendela rumah korban,’’ ujarnya.
          
Setelah berhasil masuk ke rumah pelaku, kemudian ketiga pelaku memasuki kamar Pasutri pemilik rumah yang saat itu sedang tertidur pulas. Kemudian kemudian ketiga pelaku memaksa bangun kedua korbannya dan menodongkan Sajam kea rah leher korban dan meminta korban untuk tidak berteriak. ‘’Ke tiga pelaku untuk memuluskan aksinya menjarah harta milik korban dengan menodongkan Sajam kea rah leher korban,’’ terangnya.
          
Karena berhasil melumpuhkan korbannya, ketiga pelaku berhasil menggondol uang milik korban sebesar Rp 3 juta yang berada di dalam lemari korban dan satu unit buah handpone. Setelah berhasil menemukan harta milik korbannya, lantas ketiga pelaku bergegas keluar rumah melalui jendela yang menjadi pintu masuknya merampok rumah korbannya. ‘’Setelah berhasil menemukan barang berharga kemudian ke tiga pelaku bergegas kabur dari rumah korbannya,’’ ungkapnya.
          
Namun saat ketiga pelaku beraksi, salah satu tetangga korban mengetahui adanya aksi perampokan yang terjadi di dekat rumahnya. Kemudian warga yang mengetahui tersebut lantas menghubungi Polres Loteng untuk segera bergerap merapat ke lokasi kejadian untuk menggagalkan aksi perampokan tersebut. ‘’Saat rampok itu beraksi ada salah satu warga yang mengetahui aksi tersebut dan melaporkan kejadian tersebut lantas kami mengirim tim Buser melakukan tugasnya menggagalkan aksi kejahatan tersebut,’’ jelasnya.
          
Terbukti di lokasi kejadian, tim Buser yang menerima laporan warga saat merapat ke rumah korban perampokan membuahkan hasil. Ketiga perampoak berhasil di bekuk tim Buser setelah keluar dari jendela rumah korbannya. ‘’Saat ketiganya keluar dari jendela korban tim Buser berhasil mengamankan pelaku tanpa adanya perlawanan,’’ ujarnya.
          
Adapun barang bukti yang berhasil di amankan saat aksi perampokan tersebut berupa uang jarahan Rp 3 juta, satu unit handpone, tiga buah cadar, satu golok, satu pedang dan satu buah keris milik pelaku. Dan kini pelaku masih dalam proses pemeriksaan oleh Polres Loteng. ‘’Kini kasusnya sedang dalam proses,’’ yakinnya.

BUDAYA PERESEAN



Budaya Peresean adalah salah satu dari sekian banyaknya Budaya yang dimiliki oleh masyarakat Lombok, Peresean yang artinya pertarungan dengan menggunakan Penjalin (Rotan) sebagai alat pukul dan Ende (Perisai) sebagai alat pelindung memang sudah dikenal oleh masyarakat Lombok sejak lama.

Budaya Peresean adalah salah satu budaya yang terbilang “keras” karena dalam Budaya ini pemainnya (Pepadu) akan memperlihatkan sebuah aksi-aksi saling pukul sampai salah satu dari mereka mengeluarkan darah segar, Walaupun demikian budaya yang penuh dengan “kekerasan” itu masih di lestarikan hingga saat ini.
Keunikan dari Budaya Peresean ini bisa anda saksikan ketika para Pepadu (Petarung) sudah memulai aksi saling pukul-memukul dengan menggunakan Penjalin (Rottan), pada saat pertarungan dimulai para penabuh akan memainkan sebuah alat musik tradisional Pulau Lombok, sehingga pertarunganpun berlangsung dengan gaya lenggak-lenggok dari kedua Pepadu (Petarung) seirama dengan alat musik tradisional yang di mainkan oleh para penabuh, Pepadu (Petarung) saling menghalau dan memukul lawan sampai salah satu dari mereka mengeluarkan darah karena bocor ataupun ada salah satu dari mereka yang menyerah.
Budaya Peresean bermula dari luapan emosi para prajurit di jaman kerajaan taun jebot, setelah para perajurit kerajaan berhasil mengalahkan lawan di medan peperangan. Hingga saat ini Budaya Peresean masih di lestarikan dan di budayakan oleh masyarakat suku sasak dengan tujun untuk menguji keberanian atau nyali Teruna (Pemuda) sasak selain itu juga tujuan utama di lestarikannya Budaya Peresean ini adalah untuk menarik minat dari wisatawan mancanegara dan juga wisatawan lokal.

ASAL TARI ONCER


oncer
Kata Oncer berasal dari kata “Ngoncer” yang artinya berenang. Tari ini dinamakan demikian karena gerakan pokok tarian ini diambil dari gerakan ikan sepat yang berenang.
Dalam bahasa Sasak disebut pepait ngoncer (ikan sepat berenang). Tari oncer sangat erat hubungannya dengan gamelan Gendang Beleq. Gendang Beleq dipukul sambil menari dengan gerakan yang khas. Gamelan Gendang Beleq banyak terdapat di Pulau Lombok. Gamelan Gendang Beleq pada zaman dahulu dipergunakan dalam peperangan oleh raja-raja di Lombok, untuk memberikan semangat bagi prajurit-prajuritnya da lam pertempuran. Bilamana pertempuran sudah selesai, Gendang Beleq dipukul sambil menari dan men jadi hiburan bagi para prajurit. Tarian itulah yang disebut oncerTari oncer adalah ciptaan Lain Muhammad Tahir dari desa Puyung Lombok Tengah pada tahun 1960. Tarian Oncer ciptaan Lalu Muhammad Tahir ini merupakan tarian bersama yang terdiri atas tiga kelompok, yaitu enam atau delapan orang pembawa kenceng disebut penari kenceng, dua orang pembawa gendang disebut penari gendang, dan sate orang pembawa petuk disebutpenari petuk. Masing-masing kelompok membawakan gerakannya sendiri-sendiri
Tarian ini terdiri atas tiga bagian di antaranya :
  1. Bagian pertama menggamharkan peperangan semua penari menari bersama-sama dengan gerak-gerak tari berturut-turut sehagai berikut :
    • Gerak Tinduk, yaitu gerak menangkah yang menggambar­kan keherangkatan ke medan perang. Di sini ditonjolkan gerak mengangkat kaki
    • Gerak Bukaq Jebak artinya membuka pintu. Bukaq = buka, jehak = pintu (hiasanya pintu halaman). Di sini kelihatan formasi membuka barisan oleh Penari Kenceng membentuk sudut menyerupai sorok (slat untuk menangkap ikan) sehingga formasi ini disebut Bucu Sorok. Bucu (sudut).
    • Gerak Kadal Nengos artinya kadal yang menengok. Ini berarti suatu tanda kewaspadaan terhadap musuh dengan selalu melihat ke kiri dan ke kanan Berta ke muka dan belakang
    • Gerak Rebek Taping atau gerak menangkap hurting tapong di tengah sawah.
    • Gerak Tereng Repoq. Tereng (bambu), Repoq (tumbang) Dalam hagian ini diperagakan gerak bambu yang setengahtumbang karenaditiupangin. Dimaksudkan bahwasewaktu‑ waktu prajurit bersembunyi sambil mengintip musuh.
  2. Pada bagian kedua semua penari duduk kecuali penari petuk dengan lincah dan lucunya bergerak-gerak membawakan kian kemari sambil menyanyi. Pada said inilah juga penari kenceng duduk menari sambilbelakaq (berpantun) bersahut-sahutan dengan penari petuk.
  3. Pada hagian ketiga ini melukiskan keadaan setelah selesai peperangan. Gerak-gerak tersebut adalah :
    • Gerak Cempaka panclang artinya bunga cempaka yang herguguran menggautbarkan prajurit yang gugur, bangunan yang rusak dan sebagainya
    • Gerak keroton kombol atau kembang sepatu kuncup, meng­gambarkan dimulainya kembali pembangunan setelah kehancuran akibat peperangan.
    • Gerak sandal kebak atau kembang sandat yang mekar, menggambarkan hahwa pembangunan telah dilakukan dan keadaan telah pulih kembali
Akhirnya tarian ditutup dengan penghormatan hersama dalam formasi sate hersap dengan meletakkan kedua tangan terkatup di depan muka (wajah). Pengiring tari oncer adalah satu barengan gamelan terdiri atas sebuah pemugah, empat buah saron, sate balean terompong, dua buah kantil, dua buah juhlak, dua buah jegogan, dua buah gong, dua buah kemong, satu atau dua buah soling, dan sate buah rincik.
Tari oncer dapat ditarikan oleh laki-laki atau perempuan, tetapi perannya tetap laki-laki. Dapat dimainkan di arena atau di panggung baik siang maupun malam. Pakaian penari oncer terdiri atas sapuq, slim ping, bapang, tangkong (baju), leang, teken ima (gelang tangan), dan teken nae (gelang kaki). Sebagai perlengkapan penari diper­gunakan dua buah gendang besar, enam buah kenceng, dan sebuah petuk.

Latest News

>> <<

Page

    Photos on Flickr

    You are here : Home »